Blog di Era Digital: Masih Ada Tempat di Hati Indonesia?
Instan konten di sosial media, menyuguhkan tanpa literasi yang bertele-tele. Jika bermanfaat, follow dan simpan.
Entah kapan akan dibuka kembali.
Seperti itulah kira - kira era digital saat ini.
Konten kreator menceritakan kegiatan sehari - hari, Merekam dengan Smartphone sebelum memulai setiap kegiatan.
Jika kalian masih ingat, pada tahun - tahun awal Smartphone, orang - orang seperti itu disebut "alay" (baca: anak layangan).
Tapi sekarang ini bukan lagi anak layangan dan sudah hal yang sangat biasa. Orang-orang dari generasi X pun memilih untuk mengikuti era digital ini.
Ada yang karena ingin sekedar sharing untuk personal saja, ada juga yang untuk usaha/pekerjaanya.
Di awal era digital dimana internet lebih didominasi dengan tulisan dan gambar. Orang lebih menggunakan kemampuan literasi untuk mengolah pesan atau cerita agar lebih dapat diterima di imajinasi pembaca.
Di era digital sekarang kemampuan literasi lebih banyak menggunakan rumus seperti PAS atau Pain-Agitate-Solution untuk membuat konten tentang produk yang akan ditawarkan. Atau untuk konten sosial media yang paling populer adalah dengan rumus AIDA atau Attention-Interest-Desire-Action.
Dan dengan tingkat kebisingan yang semakin tinggi di traffic sosial media. Membuat para konten kreator lebih berpikir lebih praktis.
Sehingga dalam pembuatan konten pun dengan mengutamakan penyampaian cerita yang singkat dengan alur yang cepat. Masih menggunakan rumus AIDA.
Hal ini dikarenakan kebisingan internet tadi, dimana audien hanya memiliki 3 detik saja untuk memutuskan akan tetap tinggal untuk mengkonsumsi konten lebih dalam atau abaikan untuk konten berikutnya.
Di era inilah muncul pertanyaan:
Apakah masih ada orang yang menyukai blog di jaman digital ini?
Meskipun tarian TikTok dan Instagram yang tak henti-hentinya menarik perhatian, blog tampaknya masih memiliki tempat di hati (atau setidaknya di bookmark) banyak orang Indonesia.
Ada daya tarik tersendiri pada konten berdurasi panjang.
Yang memungkinkan Anda menyelami topik-topik lebih dalam, seperti misteri alam semesta atau cara terbaik membuat nasi goreng.
Sesuatu yang tidak dapat Anda dapatkan dalam video berdurasi 15 detik.
Misalnya, blog seperti:

Pada post tersebut ditampilkan daftar blog-blog indonesia yang menampilkan konten unik mulai dari yang membingungkan hingga yang bermanfaat.
Meskipun daftar blog-blog tersebut tidak diperbarui sesering dulu, tapi masih menarik banyak orang yang ingin tahu tentang misteri dunia. Atau sekedar mencari bacaan menarik untuk mengisi waktu luang.
Selain itu, semangat menulis blog juga masih terasa di forum-forum seperti:

Forum ini adalah tempat komunitas ini berdiskusi tentang segala hal mulai dari SEO hingga pembaruan algoritma Google terkini.
Forum ini menunjukkan minat yang kuat dalam pembuatan dan konsumsi konten melalui blog.
Ini seperti kedai digital tempat para pejuang SEO berbagi kisah tentang perjuangan mereka untuk mendapatkan peringkat teratas Google.
Dunia blog bukan hanya tentang membaca; tetapi juga tentang interaksi, komunitas, dan terkadang dapat untuk menghasilkan uang.
Pada mulanya blog dianggap sebagai cara untuk berbagi pengetahuan, membangun jaringan, atau bahkan mengubah hobi menjadi pekerjaan sampingan.
Blog Niagahoster menyoroti beberapa manfaat blog, mulai dari meningkatkan lalu lintas hingga membangun portofolio daring.
Post tersebut menunjukan bahwa blog masih diminati oleh audiens Indonesia yang ingin terhubung atau belajar dari satu sama lain.
Jadi, sebagai kesimpulan, meskipun di era digital sudah sangat bising, blog masih memiliki jalurnya sendiri.
Blog mungkin bukan mobil baru yang mencolok yang dikagumi semua orang, tetapi saya yakin bahwa blog adalah kendaraan yang andal dan dapat dipercaya yang membawa kamu ke tempat yang kamu tuju, dengan sedikit kepribadian.
Ingat, dalam kata-kata abadi Douglas Adams:
"Don't Panic." The blog isn't dead; it's just evolved into something we might not immediately recognize, much like humanity's own journey through the cosmos.